BUKAN PYTHAGORAS
Betha adalah seorang siswi SMA yang
cukup berprestasi. Terutama karena suaranya yang merdu. Banyak orang menyukainya, seperti
Gamma dan Alfa. Gamma melakukan pendekatan kepada Betha dengan cara yang
terang-terangan. Sementara Alfa hanya mampu memendam perasaannya saja. Sedang
Intan adalah sahabat Betha yang sebenarnya sudah lama naksir Gamma. Akankah ada
diantara mereka yang jadian?
Pagi hari, di kelas XI IPA 7.. Saat-saat hampir bel masuk.
o Alfa: (duduk di salah satu meja masih asyik
menulis) o Betha: (Baru dateng, duduk di depannya Alfa)
o Intan: (masuk kelas, datengin mejanya Betha)
Beth!
o Betha: Ah kamu, Tan. Tumben datengnya jam
segini. Biasanya kan lebih telat. Hahaha.
o Intan: Yeee, kamu itu ya! Liat temennya rajin dipuji,kek! Jangan diledekin
gitu dong yaaa. (cemberut) (duduk di
kursi sebelah Betha, lalu mengeluarkan hapenya)
o Betha: Iya deehh, cieee si Intan rajinnya
nggak nahan! (bergaya-gaya lebay) Pagi, Alfa! (tersenyum ke arah Alfa)
o Alfa: Pagi juga Betha (tersenyum malu-malu ke
arah Betha)
o Gamma: (masuk kelas, datengin ke mejanya Betha)
Pagi Betha ayu yang suaranya merdu mendayu-dayu! Kakanda Gamma dateng nih! (ngasih coklat ke Betha)
o Intan: (kaget campur gak percaya campur risih campur males
ngeliat Gamma)
o Betha: (dengan wajah datar sambil senyum
semanis-manisnya) Makasih buat coklatnya ya, Gambreng! Tapi… sayangnya aku lagi
diet nih…(menggeser coklat itu jauh-jauh darinya sambil memasang muka memelas)
o Gamma: Yaaahh… tapi ini oleh-oleh dari Swiss
loh, Beth.. (agak kecewa tapi masih masang tampang manis)
o Intan: Eh, kalo Betha gak mau kan bisa buat
aku! (buru-buru mengambil coklat dari meja lalu mendekapnya)
o Betha: (Melotot) Intaaaan…. (masang muka
sebel)
o Gamma: Gak apa-apa,kok (Senyum sok manis) Eh,
nanti malem aku ke rumahmu ya. Malem
minggu nihh… (nada agak merayu)
o Betha: Aduh.. gimana yaaa… (pura-pura mikir)
o Alfa: (Masih di tempat duduk, masih
merhatiin Betha dan Gamma dari jauh sambil pura-pura baca buku)
o Intan: Udahlah, Beth.. bilang iya aja
susah.. kasian tuh si Gambreng, ngejar cintamu sampe ke ujung kulon. (berbisik ke Betha dengan nada sebal)
o Betha: err…. Iya dehh iyaa… (senyum maksa)
o Gamma: Sip! Jam tujuh tengtongteng aku ke rumahmu. Oke? (penuh
semangat)
o Betha: (mengangguk males sambil melirik
Intan sebal)
o Gamma: (Keluar kelas sambil nyanyi lagunya
sm*sh) Yunomisoweeeel, jangan ditoweeel~
o Intan: Cieeee.. ihir… cikiciw, uhuk-uhuk
ihik-ihik! (tersenyum menggoda Betha sambil menyenggolnya)
o Betha: Apaan, sih? Awas ya kalo sampe aku
diapa-apain sama si Gambreng itu! Pokoknya
kamu yang tanggung jawab! (ngelirik sebel)
o Intan: aaaa, Betha… ihiiiy, uhuk-uhuk-uhuk-UHUK! (batuk beneran)
o Betha: heemm, makan tuh, makannya jangan
ngeledekin orang! (tertawa puas)
o Alfa: (tersenyum ngeliat senyumnya Betha, lalu melanjutkan membaca
buku)
o Intan: pokoknya kalo jadian jangan lupa…..
o Betha: (mukul Intan pelan pake buku paket
biologi)
o Intan: Aduh! (mengusap-usap kepalanya)
o Betha: sampe bumi gonjang-ganjing pun aku
nggak mau kalo disuruh jadian sama Gamma gambreng itu, dodol! (melirik kesal ke arah Intan)
o Intan: Iya deh iyaaa, ampuuun… (mengelus
kepalanya) Eh, itu tuh bu Sindi dateng (menunjuk ke arah pintu)
o Bu Sindi: (masuk kelas, bawa buku-buku)
(meletakkan buku ke meja) Selamat Pagi anak-anak!
o All: Paaaagiiii,buuuu! (penuh semangat)
o Bu Sindi: Sebelum kita memulai pelajaran,
ibu akan memberikan sebuah informasi bagi kalian. (mencari-cari sesuatu di tumpukan bukunya) (mengambil sebuah
pamflet)
o Intan: Apaan, buu?
o Bu Sindi: ehm, mengenai audisi drama
musikal yang akan diadakan pada akhir tahun pelajaran ini.. (membaca tulisan
pada pamflet) Jadi, pamflet ini akan di sebar ke seluruh kelas pada jam
istirahat ini..dan berhubung ibu koordinatornya, ibu akan
menjelaskan sedikit kepada kalian. Audisi ini akan diadakan hari Sabtu minggu
depan sepulang sekolah di aula. Syarat yang utama tentunya harus memiliki suara
yang baik, karena semua lagu akan dinyanyikan secara langsung. Untuk itu,
peserta audisi harus membawakan dua lagu. Yang pertama adalah pilihannya
sendiri, dan yang kedua lagu wajib dari panitia. Ada pertanyaan?
o Alfa: (angkat tangan) bagaimana dengan
formulirnya, Bu? Apakah kita langsung datang atau meminta formulir dari panitia
atau bagaimana?
o Bu Sindi: untuk formulir, bisa menghubungi
panitia. Ada pertanyaan lagi?(memandang ke sekeliling kelas)
o Intan: Bu! (angkat tangan agak lebay) Suara
saya kan cempreng kaya kaleng rombeng yang kompreng-kompreng kaya gini…berarti
saya gak boleh ikut audisi? (nada
sedih melankolis melebay-lebay)
o All: (ketawa) huuuuuuuu
o Betha: Ah, itu udah pasti Tan! Gaperlu
ditanya! Hahaha! (ketawa jahil)
o Intan: (melengos, mengelus dada sambil
geleng-geleng) Ah, kalian bisanya sirik doang.
o Bu Sindi: (tersenyum menahan tawa) Mungkin
saja. Tidak ada salahnya kan mencoba untuk audisi ini? (tersenyum bijak)
o Intan: (mengangguk senang) yeee, aku bakal
jadi artis niiiih! Kudu telpon enyak
babe nih! (bisik-bisik lebay ke Betha)
o Betha: Oh Mai Gat! (tepuk jidat)
o Alfa: (tersenyum melihat tingkah Betha,
mencuri-curi pandang sambil pura-pura baca buku)
o Bu Sindi: baik, anak-anak. Berhubung ibu
harus mengurus masalah drama musikal ini, ibu beri tugas saja kepada kalian.
o All: Asiiik! (jingkrak-jingkrak)
o Bu Sindi: (membalik-balik buku paket)
Carilah artikel mengenai sejarah musik keroncong di Indonesia! Besok pukul 7
tepat harus sudah dikumpulkan di meja ibu, ya.
o All: Yaaaaahhhh.. (cemberut)
o Bu Sindi: Sekian pelajaran musik hari ini,
selamat pagi! (membawa buku-bukunya
keluar kelas)
o All: Pagi buu! (Keluar kelas)
Hari H audisi, sepulang sekolah, di Aula.
Betha sedang berlatih menyanyi dengan
tenang, sedangkan Intan terlihat sibuk mondar-mandir lebay. Tak jauh terlihat Alfa
yang curi-curi pandang memperhatikan Betha sambil asik mendengarkan musik.
o Betha: Bersama mentari ku bernyanyi
menyambut pagi hari, bersama pelangi… (asik
mendendangkan lagu dari headphonenya)
o Intan: Tee….ttteeeeeriiimaaa kaaasiihhh cinnntaaaahhhh untuuukh
segalanyaaaahh (nyanyi lebay dengan suara cempreng sambil joget-joget)
o
Betha: (melirik Intan, melepas headphonenya lalu
mendekati Intan) Mbak, mbak… speakernya lagi rusak ya?
o
Intan: (melirik sebal) Ohhh… bukan mbaaak… ini namanya
suara ultrasonik! Mbak belom tau ya? Aduuuuh, ketinggalan jaman banget dueh!
(nada tinggi sambil agak lebay)
o Betha: (kaget) Astaghfirullah… Ya Allah,
kenapa aku bisa punya piaraan kaya dia ya? Ckckckck (geleng-geleng sambil menengadahkan tangan *berdoa*)
o
Intan: wooo! (ngelemparin buntelan kertas lirik lagu ke
arah Betha sambil masang muka sebal)
o Gamma: (masuk ke aula) (datengin Betha
sambil senyum-senyum gak jelas) Haloo, Betha ayu yang suaranya merdu medayu
dayu mirip putri ayuuu… (lagi
gombal ceritanya)
o Betha: Eh, ada Gambreng toreng-toreng! (tersenyum jahil)
o Intan: (masang muka absurd) Apaan? Gambreng toreng-toreng? Itu suara apaan, Beth? (muka jahil nahan
ketawa)
o
Betha: aduuuuh, gambreng toreng-toreng itu panggilan buat
Gamma! (ngelirik Gamma) Toreng-toreng itu maksudnya tokek goreng! Wkakaka!
(ngakak nggak jelas)
o Intan: (melotot ke arah Betha) tokek
goreng? Maksa ya… (mikir)
o Gamma: nggak apa-apa kok Tan.. yang
penting… cintanya pangeran tokek cuma buat kamu seorang, Betha! (senyum penuh gombalan)
o
Bu Sindi: (masuk ke aula) Audisi akan dimulai anak-anak!
Kalian akan dipanggil sesuai dengan nomor urut! Yang pertama Alfa Rahmat
Milamat Mlumat-mlumat, silakan! (sambil membaca tulisan di kertas) (lalu duduk
di kursi yang disediakan)
o
Alfa: (berdiri lalu berjalan ke tengah aula)
o
Betha: Semangat, Alfa! (tersenyum ke arah Alfa)
o
Alfa: (mengangguk sambil tersenyum pada Betha)
o
Bu Sindi: Silakan, Alfa..(memberikan mic)
o Alfa: lagu pertama ini berjudul Sempurna
(mulai menyanyi) Kau adalah darahku, kau adalah jantungku, kau adalah hidupku,
lengkapi diriku.. oh sayangku kau
begitu sempurna..
o Intan: (mulut menganga sakit terpesonanya) Gilaaa,
Alfa diem-diem suaranya mengelegar kaya halilintar gitu ye? (masih melototin Alfa)
o Betha: Sama Afgan bagusan mana, Tan? (nyengir ke Intan)
o Intan: Yeeee… itusih beda jauuuh. Masih bagus Afgan laaaah!
o Betha: Bagus, deh. Kirain sekarang berubah
jadi Alfanisme! Hahaha! (ketawa
ngeledek)
o Gamma: kalo kamu Gammaisme kan ya, Beth? (senyum-senyum gak jelas)
o Betha: (Kaget) (ngelirik Intan)
o Intan: (ketawa cekikikan) Gammaisme, Beth! (sambil berbisik)
o Bu Sindi: (mencatat sesuatu di kertas) Ibu
minta kamu berakting menangis… (menatap
Alfa serius)
o Alfa: (berkonsentrasi)
(tiba-tiba terduduk di atas lantai) (mulai menangis tersedu-sedu) Huhuhu,
maafin aku, aku nggak bermaksud..(terus menangis) maafin aku…
o
Bu Sindi: (memperhatikan Alfa sambil mencatat sesuatu)
Cukup. Silakan kembali ke tempat, Fa.. (sambil tersenyum)Selanjutnya, Betha Chaca
Maricha silakan! ( menoleh ke arah belakang)
o
Intan: Semangat, Beth! (ketawa jahil)
o
Betha: Sip! (tersenyum ke arah Intan) (maju ke depan Bu
Sindi)
o Bu Sindi: (tersenyum ke arah Betha)
Langsung saja Ibu minta kamu berakting seperti presenter silet. (mencatat
sesuatu di kertas)
o Betha: (mulai berakting alay)
o
Afa& Gamma: (memperhatikan Betha tak berkedip)
o Bu Sindi: (tersenyum) Bagus, silakan
kembali. Berikutnya Gamma..
o Gamma: (berdiri) Doa’in aku, ya Beth! (tersenyum ke arah Betha)
o
Betha: (nyengir) (berbisik ke Intan) Aku do’ain semoga
kamu nggak lolos, hihihi
o Intan: (tertawa lirih)
o
Bu Sindi: (tersenyum ke arah Gamma) Silakan, Gamma..
o Gamma: (bersiap menyanyi) Mengapa hatiku
cenat-cenut tiap ada kamu.. yunomisoweeel…
girl I love you, Girl I heart you (menyanyi sambil menari mencoba meniru gaya sm*sh)
o
Bu Sindi: (tersenyum menahan tawa sambil menulis sesuatu)
o
Betha dan Intan: (tertawa cekikikan)
o Intan: (masih tertawa) Sumpah,ya… nggak banget
deh orang yang ngejar-ngejar kamu itu, Beth! Nggak banget! (ngakak)
o Bu Sindi: Cukup, Gamma. Silakan kembali. (tersenyum)
o
Gamma: (wajah sedih) Tapi, bu…. Saya kan belum
menunjukkan bakat akting saya…
o Bu Sindi: (tersenyum) Sudah cukup, Gamma..
ibu rasa akting kamu bagus,kok.. (sambil
mencatat sesuatu di kertas)
o
Gamma: Baik bu.. ( tersenyum kecut lalu berjalan gontai
ke pinggir aula)
o
Bu Sindi: Selanjutnya, Intan! (mencari-cari Intan di
belakang)
o Intan: (tersenyum ceria)
o
Bu Sindi: (mengangguk memberi tanda kepada Intan untuk
langsung bernyanyi)
o
Intan: Ttteeerimaa kasihhh cintaaahhhh (mulai bernyanyi
lebay) untuk segalanyaaaaah, kau berikan lagiiiih kesempatan ituuuhhh
o
Betha, Alfa, dan Gamma: (menutup telingan sambil keluar
aula)
o Intan: (melihat sikap Betha Alfa dan Gamma)
Loh, loh, kok pada keluar sih? (kesal)
o
Bu Sindi: (tersenyum) Sudah selesai, Intan?
o
Intan: (kebingungan) Eh, err… udah, bu…
o
Bu Sindi: (tersenyum) Kalau begitu, silakan kembali
o Intan: Baik bu.. (menggaruk-garuk kepalanya
kebingungan) Emangnya segitu cemprengnyakah suaraku sampai-sampai mereka gak
betah dengerin aku yang lagi nyanyi ya? (berbicara sendiri dengan sedih)
o Bu Sindi: (mendekati Intan) Bagus,kok.. (tersenyum)
o Intan: (tersenyum) Terima kasih, bu.. saya permisi dulu.. (keluar aula)
o
Bu Sindi: (tersenyum memandangi Intan yang keluar aula)
(menyusul keluar)
Hari
pengumuman audisi,
- Bu Sindi: (masuk ke aula) Mohon perhatiannya, berikut ini adalah daftar anak yang berhasil lolos
audisi untuk drama musikal ini… (menempelkan kertas ke papan pengumunan)
Bagi yang sudah lolos, pulang sekolah nanti berkumpul di aula untuk
technical meetingnya. (pergi keluar aula)
- All:
(mengerubungi papan)
- Intan: Ciyee, Betha! Selamat ya! (sambil nyalamin Betha)
- Betha: Ouh! Makasih, Intan! Kamu juga kaan? (membaca
papan pengumuman untuk memastikan)
- Intan:
(tersenyum malu-malu) Iya, sih… gapapa deh, walaupun cuma jadi temennya Cinderella
yang munculnya satu adegan doang… ah, bentar ya, mau telpon enyak babeee (mengambil
hape dari saku) (keluar aula untuk menelpon)
- Betha:
(geleng-geleng kepala)
- Gamma: Selamat ya Betha Cantik! Suaramu
memang….
- Betha: merdu medayu-dayu seperti putri ayu..(muka
datar)
- Gamma: Ah! Iya! Haha! (nyalamin Betha) sekali lagi
selamat yaaa! Haha…gimana kalo buat ngerayainnya, aku traktir kamu makan
siang? (nada suara merayu)
- Betha: ehm, Sori, Gambreng… aku gak bisa. Gak akan
bisa seperti yang selama ini kamu pikirkan. Aku cuma nganggep kamu temen,
nggak lebih.. Maaf yaa… (masang muka memelas)
- Gamma: (muka kecewa) Gak bisa lebih, Beth? Kamu tau perasaanku
kaan? Perasaan cintaku ini…. Tak bisa kubendung lagi… ibarat orang yang
gak bisa nahan kalo mau pup…
- Betha: Gambreng, aku kan udah pernah bilang, kalo
aku gak minat pup ya, enggak… eh maksudnya aku nggak cinta ya enggak. Gak
bisa dipaksain dong ya.
- Gamma: (sedih)ohh… yaudah… Semoga berhasil buat
dramanya ya…. (balik badan langsung keluar aula)
- Intan: (masuk aula) Bethaaaa! Anterin aku pulang,
yuk! Cepetaan! Aku kebelet pup! (memegangi perutnya yang sakit)
- Betha:
(Muka terkejut)
Di hari pertama latihan, semua pemain
berkumpul di aula…
- Bu Sindi: (membagikan naskah drama) Ini naskah drama
termasuk daftar dan lirik lagu yang harus kalian hapalkan. Ibu
sudah memisahkannya berdasarkan pemain.
- All: (membaca naskah sambil mengangguk-angguk)
- Bu Sindi: Hari ini, ibu akan mencoba pada adegan
klimaks, yaitu saat pangeran bertemu lalu berdansa dengan cinderella. Alfa,
Betha. Silakan! (menunjuk ke tengah aula)
- Alfa dan Betha: (mengangguk lalu berjalan ke tengah
aula)
- Alfa:
(membaca naskah) Oh Tuhan! Mimpi apa aku semalam! Bisa bertemu dengan putri secantik ini! Atau
janga-jangan… aku sedang bermimpi? (menatap Betha)
- Betha: (membaca naskah sekilas) Tidak, pangeran. Aku
nyata. Percayalah…(tersenyum ke arah Alfa)
- Alfa: (membaca naskah) Jika kau nyata, maukah kau berdansa
denganku? (mengulurkan tangan)
- Betha: (mengangguk malu-malu) (membaca naskah)
tentu, pangeran!
- Bu Sindi dan Intan: (bertepuk tangan)
- Bu Sindi: (masih tepuk tangan) Bagus! Bagus! Akting
kalian bagus sekali untuk mengawali latihan pertama kita hari ini
(tersenyum puas)
- Alfa dan Betha: (tersenyum) terima kasih, Bu…
- Bu Sindi: (mengangkat telepon) Halo… (menjauhi
kerumunan) Iya-iya, saya akan segera ke sana (terlihat serius berbicara
ditelepon) Baik..(menutup telepon)
- Pemain
drama: (sibuk berbicara sendiri-sendiri)
- Bu Sindi: (Menghampiri kerumunan) Anak-anak, mohon
maaf latihan hari ini cukup. Ibu harus menghadiri pertemuan guru musik se
Kota Pekalongan. (sambil membaca sms di hape)
- Pemain
drama: Iya bu… (tersenyum senang)
- Bu Sindi: Terima kasih atas kehadiran kalian,
latihan selanjutnya akan diumumkan pada papan informasi. (
mengambil tasnya lalu buru-buru keluar aula)
- Intan: Beth, aku keluar dulu ya, udah kebelet pup nih..(mengambil tasnya)
- Betha:
Oke (sibuk memberesi kertas-kertas)
- Intan: Fa, aku duluan ya (menepuk pundak Alfa)
- Alfa: Eh, iya (agak terkejut lalu mengangguk pelan)
- Intan: (keluar aula sambil setengah berlari)
- Betha: (mengambil tasnya, bersiap keluar aula)
- Alfa: (mendekati Betha ragu-ragu) Beth…
- Betha: (menghentikan langkahnya) (berbalik menghadap
Alfa) Iya? Kenapa Fa?
- Alfa:
errr…. (terlihat ragu-ragu)
- Betha: ya? Kenapa Fa? (heran melihat ekspresi Alfa)
- Alfa: kamu… hebat ya, udah pinter nyanyi, eh
ternyata pinter akting juga (tersenyum ke arah Betha)
- Betha: Ah, nggak juga, Fa.. biasa aja,kok.. (tersipu
malu) suara kamu bagus juga (menepuk pundak Alfa)
- Alfa: Makasih, beth… (tersenyum malu-malu)
- Betha:
(bersiap keluar aula)
- Alfa:
Beth! (menghampiri Betha)
- Betha:
ya? (heran)
- Alfa:
aku… aku… sebenarnya ada yang mau aku omongin ke kamu… (ragu-ragu)
- Betha:
Ya? Apa? (penasaran)
- Alfa: Sebenarnya….. aku…. Hatiku… selalu cenat-cenut
kalo ada kamu… (menunduk malu)
- Betha: (terkejut) Apa? Kamu sm*shblast ya Fa? (menahan
tawa)
- Alfa:
(agak sebal) Bukaaan, bukan itu! Maksudnya…. I heart you… (malu-malu)
- Betha:
Tuhkaaan, kamu sm*shblast ya? (menahan geli)
- Alfa: (mulai sebal) terserah deh kamu mau bilang aku
apa. Yang jelas, hatiku udah cenat-cenut sejak kita satu SD bareng, maen
sepedaan bareng,maen tamagochi bareng, bahkan sejak kamu bayarin aku mie
pangsit ituu…(menatap Betha)
- Betha: (menganga) (kaget) APAAA?? Kok… bisa? Kok….
Kok…. (mendadak sesak napas, lalu duduk di kursi terdekat)
- Alfa: (takut-takut mendekati Betha) Maaf ya, udah
bikin kamu kaget gitu… ehm… jadi… jawabanmu apaan?
- Betha:
Jawaban apa? (bingung)
- Alfa: (malu-malu memberikan kertas bertuliskan ‘KAMU
MAU NGGAK JADI PACARKU?’)
- Betha: (membaca kertas itu kaget) Sebenernya….aku
juga cenat-cenut kalo ada kamu, Fa.. tapi, kaya perasaan sukaku sama mie
ayam pangsit, biasa aja. Hanya sekedar teman, nggak lebih dan bahkan nggak
boleh lebih…
- Alfa: (bingung) kenapa? Apa gara-gara Gamma? (meremas
kertas itu)
- Betha: Bukan,bukaan… aku sama Gamma gak ada perasaan
apa-apa juga kok… sebenernya aku udah punya pacar…sejak setahun yang
lalu.. sekarang dia masih di Jakarta dan…. Kami udah dijodohin… (menunduk)
- Alfa:
(berlari meninggalkan Betha)
- Betha: Alfa! Tunggu! (mengejar Alfa)
- Alfa: (naik ke atas kursi) Kamu putusin pacarmu dan
terima aku atau aku bakal lompat,nih!(bersiap-siap melompat) (bergantian
memandangi Betha dan ke bawah)
- Betha: Fa….. aku… maaf aku nggak bisa… (mencoba
mendekati Alfa)
- Alfa: Jangan dekat-dekat! Atau aku bakal lompat nih!
Aku lompat nih! (mengusir Betha) (semakin diujung kursi)
- Betha: Jangan, Fa.. jangan! (melirik kanan kiri)
(menatap Alfa cemas)
- Alfa: Selamat tinggal Betha….(lompat dari atas
kursi)
- Intan: (berlari) ALFA! JANGAN! JANGAN LOMPAT!
(mengejar Alfa yang masih lompat)
- Alfa: (jatuh terkapar di lantai)
- Intan: (mendekati Alfa) Alfa…. Hatiku yang
cenat-cenut tiap ada kamu. I heart you, Fa! I
heart you! (menggoyangkan tubuh Alfa yang sudah mati)
- Alfa:
(meninggal)
- Betha: (mendekati Intan) Tan…. Alfa udah
meninggal…(mengelus pundak Intan)
- Intan: (menggoyangkan tubuh Alfa) Alfa! Alfaaaaa!
(menangis meratapi mayat Alfa)
- Betha: (memisahkan Intan dengan Alfa) tenang, Tan…
alfa udah tenang di alam sana…(menepuk pundak Intan)
- Gamma:
(mengambil tubuh Alfa)
- Intan: (masih menangis sambil merangkul Betha) Alfa…
ALFA! Kenapa dia harus gini,sih? Ini semua gara-gara kamu, Beth! Kenapa
kamu nolak cintanya Alfa? (menangis semakin
keras)
- Betha: (mendorong Intan menjauh) Kok kamu nyalahin
aku sih? Hatiku tuh nggak cenat-cenut tiap ada Alfa!
- Intan: (masih duduk sambil menangis tersedu-sedu)
- Betha: (mendengus kesal) (keluar memanggil Bu Sindi)
- Bu Sindi: (datang bersama Betha)
- Betha: (menggandeng Bu Sindi) Ini, Bu, Intannya…
nangisnya gak berhenti-berhenti dari tadi, bu… (duduk
mendekati Intan)
- Bu Sindi: (mendekati Intan) Intan….(mengelus pundak
Intan pelan) sudah, jangan menangis… (memberikan
sapu tangan kepada Intan)
- Intan: (masih menangis) (menatap Bu Sindi) Alfa, bu…
alfa… kenapa dia harus pergi secepat itu, bu? (menangis
lagi)
- Bu Sindi: Intan, umur seseorang itu nggak ada yang
tau, jadi jika Alfa harus meninggal sekarang, itu karena
takdirnya…(mengusap punggung Intan pelan)
- Intan:
(masih terisak)
- Betha: (duduk di sebelah Bu Sindi) (memperhatikan
percakapan bu Sindi dengan Intan)
- Bu Sindi: Intan, apakah kamu bersedia jika ibu
hipnotis kamu? (menatap Intan
sungguh-sungguh)
- Intan: (terkejut) (masih terisak) Untuk apa, bu?
- Bu Sindi: supaya hatimu lebih tenang,Nak! (tersenyum
kalem)
- Intan:
Baiklah, Bu. Saya mau.. (mengusap air matanya) (memperbaiki posisi
duduknya)
- Bu Sindi: Tatap mata Ibu… (memandang Intan)
dengarkan sugesti Ibu. Jika kamu melihat Gamma, maka kamu akan tertidur
(menatap Intan lekat-lekat)
- Intan: (mengangguk pelan) (menatap Bu Sindi)
- Bu Sindi: (memanggil Gamma) Gamma!
- Gamma: (mendekati Bu Sindi) Iya bu? Ada
apa?
- Intan: (terkejut melihat Gamma) GAMMA?! (tertidur)
- Gamma: (kebingungan melihat tingkah Intan)
- Bu Sindi: Nggak ada apa-apa, Gam. Silakan kamu
kembali (tersenyum tenang)
- Gamma: (masih kebingungan) Baik bu. (menggaruk-garuk
kepala)
- Bu Sindi: (melihat ke arah Intan lagi) (sambil
memegang pundak Intan) Untuk orang yang saya sentuh, perkenalkan dirimu..
- Intan: (masih tertidur) Nama saya Intan Gemintang
Sepanjang Jalan. Saya anak pertama dari tiga bersaudara dan yang paling
cantik diantara saudara-saudara saya karena adik saya laki-laki semua.
Hobi saya membaca buku, benyanyi dan memikirkan Afgan sepanjang waktu.
- Bu Sindi: lalu kenapa kamu menangis?
- Intan: (mulai menangis lagi) Saya… saya… saya sedih
kehilangan Alfa..
- Bu Sindi: Intan (menyentuh pundak Intan) sebegitu
berharganyakah Alfa untuk kamu.
- Intan: (menangis) Iya, bu.. hati saya selalu
cenat-cenut kalo sama Alfa, Bu..
- Bu Sindi: Biarkan Alfa tenang di alam sana,Nak! Ibu
yakin, jika kamu tidak terus-menerus menangisinya dia akan bahagia.(mengusap
rambut Intan pelan) (tersenyum)
- Intan: (masih tertidur) Iya, Bu. (mengangguk
pelan)
- Bu Sindi: untuk orang yang saya sentuh. (menyentuh
pundak Intan) Dengarkan sugesti saya. Relakan kepergian Alfa, agar dia
bisa tenang di alam sana. Sesaat lagi saya akan menghitung sampai 10,
setelah hitungan ke 10, kamu akan segera terbangun dan menyanyikan sebuah
lagu yang terakhir kalinya untuk Alfa. Satu…
sepuluh (mulai menghitung)
- Intan: (terbangun) (mengucek-ucek mata) (terlihat
kebingungan) (beranjak dari kursi) (terdengar lagu Bawalah Cintaku)
- Betha: (memberikan bunga kepada Intan)
- Intan: (menyanyi Bawalah Cintaku) Di dalam hatiku
sampai waktu yang pertemukan…. Kita nanti…
(mengusap air mata)
- Alfa: (muncul dalam bentuk hantu) (mendekati Intan
pelan-pelan sambil tersenyum) Intan, kembalikan kaleng kerupukku. (Mengulurkan
tangan)
- Intan: (melihat Alfa) Alfa…(mencoba mendekati Alfa)
Kalengnya udah aku loakin… maafkan aku, alfa… (menangis)
- Alfa: Yasudah, aku akan beli kaleng kerupuk lagi. Dadaaa!
(menghilang)
- Intan: Alfaaaaa! (menangis tersedu-sedu)
- Bu Sindi, Betha, dan Gamma: (menyaksikan dari
pinggir)
- Betha: Bu, gimana kalo kita bawa Intan ke psikiater
aja? Nangisnya tambah parah nih.. (cemas melihat Intan)
- Bu Sindi: Ide bagus! Ayo kita kesana. Tapi…
dimana? (bingung)
- Gamma: Saya tau,Bu! (angkat tangan) (mendekati Bu
Sindi)
- Bu Sindi: Oke. Ayo Gamma. Cepat antar kita kesana!
(mendorong-dorong Gamma)
- Gamma: (kesandung) (hampir jatuh) Aduh! Iya Bu…
(berjalan di depan)
- Betha: Ayo, Tan! (menggandeng Intan)
- Intan: (setengah sadar) Kita mau kemana?
- Betha: Kita mau ketemu sama Afgan.
- Intan: (berhenti) Beneran? (mata melotot senang) Tapi
Alfa gimana? (muka sedih)
- Betha: Tenang, Taaan… nanti kita juga ketemu
Alfa,kok.
- Intan: Masak? Ayo, deh. (berjalan cepat mendahului
Betha)
- Betha:
(geleng-geleng kepala)
Sesampainya di tempat praktik psikiater,
ternyata belum buka. Tetapi di sebelahnya ada tempat praktik Mbah Dukun yang
buka. Lalu, mereka memutuskan
untuk masuk ke dalam.
o Mbah Dukun: (Berjoged menyembah-nyembah
sambil komat-kamit) Aji mung kresna tresna sak nusantara goyang-goyang kembang
melati. Aduh…. Masak praktekku sepi pengunjung, omzetnya menurun sejak tahun
lalu. Oooh iya! Mungkin mbah
kurang promosi. Update status dulu deh di Facebook (ketik status).
o (Bel rumah berbunyi)
o Bu Sindi, Intan, Betha, dan Gamma masuk ke
tempat praktek.
o Bu Sindi : permisi mbah…(menunduk mendekati
mbah dukun).
o Mbah Dukun : (Kaget melihat bu Sindi) Eh
copot mak copot! Apaan deh . Eh,kunti kunti kunti… Ada kunti!! (melempar lempar bunga ke arah bu sindi)
o Bu Sindi : (menghindari lemparan bunga dari
mbah dukun) Bukan mbah! Bukan!
Bukan saya Bu Sindi.
o Betha : (memegangi intan)
o Mbah Dukun : (diam. Memandangi Bu Sindy)
Ooohh.. Ngemeng dong dari tadi (wajah orang sebel)
o Bu Sindy :
Maaf mbah.. (duduk di depan mbah dukun sambil menuntun intan duduk).
o Mbah Dukun : (mata melotot memainkan
kemenyan) Ada apaaaaaa kalian kesini? Hohoho..
(memainkan kemenyan lagi)
o Betha : (menatap dan mendekati wajah mbah
dukun) Mbah, kog mirip Alfa ya.
o Intan : Iya..(Setengah sadar)
o Mbah Dukun : Hah Alfa?? Makana apaan tuh ?
o Bu Sindy : Alfa itu makanan khas pekalongan
mbah. Pempek.
o Mbah Dukun : Bukan itu megono! Langsung
saja apa urusan kaliyan kesini !! (muka
galak)
o Betha : Begini mbah, teman saya intan
mengalami goncangan mental lebih dahsyat dari goncangan tsunami di Jepang
kemarin. (memegang pundak intan)
o Mbah Dukun: Hahaha! (tertawa) Aku beri kamu satu permintaan
(mengacungkan satu jari ke wajah Bu Sindi). Eh salah… Mbah tahu cara
mengatasinya.
o Gamma: Mengatasi masalah tanpa masalah, ya
mbah.
o Mbah Dukun: Sssst! Jangan nyebut merk!
Sekarang, pegangi dia. (menunjuk Intan) (masih sibuk dengan kemeyan). Kamu!
(menunjuk Gamma) Bantu saya melemparkan saya melemparkan bunga ini! (menunjuk ke arah kemenyan)
o Intan: Alfa… Alfa… (mengigau)
o Gamma: Baik, mbah. (mengambil kemenyan yang
berisi bunga) (melemparkan seluruh isinya ke arah Intan)
o Mbah Duku: Aduh! Kamu ini!! Bukan begitu
maksud saya!! (Murka) Cepat pungut lagi kembang itu! Melemparkannya
sedikit-sedikit! DAN SETELAH SAYA SELESAI MEMBACA MANTRA. (Mata melotot)
o Gamma: Baik, Mbah. Baik. Ampun!! (memunguti
bunga dan meletakkannya di tempat kemenyan)
o Mbah Dukun: (Baca Mantra) Gujug gujug
gujug, lalala lilili kusuma tunas dewari mangkubumi, syadingdong parapara. Hey
setan-setan jahanam! Keluar dari tubuh gadis ini! (mata melotot) HUAH… (mengambil semprotan air)
o Intan: Huaaaahh…. (pingsan)
o Betha & Bu Sindi: Intan! Bangun
(menggoyang-goyangkan tubuh Intan)
o Intan: (Bangun)
o Betha: Intaaaan…… (tersenyum senang)
o Intan: Aku…. Dimana? Kamu…. (memandang
Betha) Siapa? Aku….. Cantik a=gak? Aku cantik kaaannn. Hahahahaha!!!
o Bu Sindi: Mbah! Ini gimana sih mbah? Saya
tuntut di Mahkamah Perdukunan Internasional!
o Mbah Dukun: Aduh Ibu…. Maaf……. Aduh-aduh…
Bila sakit berlanjut hubungi dokte, bu. Trims. Kabur aaaah….. (keluar)
o Betha, Gamma, dan Bu Sindi: Heeeh… Jangan kabur (mengejar)
o Intan: Dimana cantikku, eh, dimana kacaku…
dimana kacaku….. Aku cantik, kan? Cantik kan. Hahahaha!
Penyakit kejiwaan Intan tak kunjung sembuh
juga. Bahkan, menjadi semakin parah. Bu Sindi, Betha, dan Gamma yang mencoba
mengobati Intan malah ikut jadi gila.